Arsip Penulis: simoncellimarco97

” 🌾🌺 IKHLAS 🌺🌾 “

“Mari ku ajarkan kamu ilmu ikhlas,” kata seorang guru kepada muridnya.

“Nanti saya ambilkan buku dan pena untuk menulis.”

“Tak bisa, bawa saja karung goni.”

“Karung goni?” tanya anak muridnya seperti tidak percaya.

“Mari kita ke pasar!”

Dalam perjalanan ke pasar mereka berdua melalui jalan yang berbatu-batu.

“Ambil batu-batu yang besar dan masukkan ke dalam goni yang kau bawa itu,”
kata guru itu memberi arahan.

Tanpa banyak tanya, anak muridnya memasukkan batu-batu besar yang mereka temui di sepanjang jalan.

“Cukup?” tanya anak muridnya.

“Belum. Isi sampai penuh karung goni itu.”

Sampai di pasar, mereka berdua tidak membeli apa-apa. Hilir mudik, setelah
melihat-lihat kemudian mereka segera keluar dari pasar.

“Tuan Guru, kita tidak beli apa-apa?”

“Tidak. Bukankah karung gonimu telah penuh?”

“Ya, ya…”kata si murid, agak kelelahan.

“Banyak beli barang,” tegur seorang kenalan yang melihat mereka dengan goni yang kelihatan berat itu.

“Wah, tentu mereka berdua ini orang kaya! Banyak sekali barang yang mereka beli,”
kata seseorang yang lain.

“Agaknya, mereka hendak membuat kenduri besar,” kata yang lain pula.

Setelah kembali ke tempat tinggal mereka, si murid meletakkan goni yang berisi
batu-batu tadi.

“Oh, letih sekali rasanya.. apa yang ingin kita buat dengan batu-batu Tuan Guru?”

“Tidak buat apa-apa”

“Eh, kalau begitu letih sekali saya,” Balas anak murid.

“Letih memang letih, tapi kamu sudah belajar tentang ikhlas.”

“Ikhlas?” si murid keheranan.

“Kamu sudah belajar apa akibatnya jika tidak ikhlas dalam beramal,”

“Dengan memikul batu-batu ini?”

“Ya. Batu-batu itu umpama amalan yang riya’. Tidak ikhlas. Orang memujinya seperti orang-orang dipasar tadi memuji banyaknya barang yang kamu beli. Tapi, kamu sendiri tahu itu bukan barang makanan atau keperluan, tetapi
hanya batu-batu.”

“Amal yang tidak ikhlas umpama batu-batu ini?”

“Ya. hanya berat saja yang ditanggung. Dipuji orang, tetapi tidak ada nilai nya di sisi ALLAH. Yang kamu dapat, Hanya lelah .”

“Ya, sekarang saya faham apa akibat jika beramal tetapi tidak ikhlas!” Ujar si murid.

…………………………………………

PENGAJARAN :
Banyak manusia tertipu dalam beramal karena mengharapkan pujian.
Padahal kata-kata pujian hakikatnya hanya menyebabkan diri tersiksa karena terpaksa
hidup dalam keadaan yang semu.

Rugi benar orang yang tidak ikhlas, tersiksa di dunia, tersiksa di Akhirat.

Salam Mahabbah….

Semoga bermanfaat . . . .

IQBAL

BAHLUL DAN UANG WARISANNYA

Dikisahkan bahwa Bahlul tidak mendapatkan warisan dari ayahnya. Alasannya karena Bahlul dianggap “gila” dan tidak bisa memegang uang. Padahal ayahnya yang meninggal meninggalkan harta waris sebesar 600 dirham. Bukan uang yang sedikit tentunya. Namun hakim telah membekukannya karena Bahlul dianggap tidak waras.

Kemudian Bahlul datang kepada hakim. “ Wahai bapak hakim semoga Allah Ta’ala memberkahimu. Engkau mengira aku ini tidak waras. Hari ini aku kelaparan tolong berikan dua ratus dirham uang dari warisan bapakku. Aku akan duduk di pasar dan berdagang di sana. Bila engkau melihatku bisa membelanjakan uang dua dirham tadi, maka berikanlah sisa harta warisan ayahku itu,” kata Bahlul.

Apa yang dialami Bahlul membuat hakim menjadi iba. Ia kemudian memerintahkan pegawainya untuk memberikan uang sebanyak permintaan Bahlul. Hal ini membuat Bahlul senang. Namun beberapa menit setelahnya yang terjadi justru sebaliknya. Bahlul menjadi bingung hingga uang tersebut akhirnya diinfakkan semuanya.

Kemudian bahlul datang ke hakim yang saat itu akan menyidangkan suatu perkara. “ Wahai Bahlul apa yang telah engkau lakukan sehingga engkau menemuiku?” kata hakim.

“ Begini pak hakim, semoga Allah Ta’ala memuliakanmu. Saya ingin memberitahukan bahwa uang yang engkau berikan dari warisan ayahku telah kuinfakkan. Sudilah Bapak hakim memberikan dua ratus dirham lagi,” kata Bahlul.

“Apakah engkau akan mengulangi lagi caramu menggunakan uang,” kata hakim.

“Saya tidak akan melakukan seperti itu lagi. Anda boleh mendatangkan dua orang saksi bahwa saya akan benar-benar menggunakan uang itu,” jawab Bahlul.

Kemudian hakim mengambil kantong dan memberi uang kepada Bahlul sebanyak 200 dirham.  (Nurul Huda)